B. PERENCANAAN
PEMBELAJARAN BAGI ANAK USIA SEKOLAH MENEGAH
Implikasi karakteristik anak usia
sekolah menengah terhadap penyelenggaraan pendidikan adalah pada perkembangan
fisik dan perilaku psikomotorik, perkembangan bahasa dan perilaku kognitif, perkembangan
perilaku social-moralias dan religious, serta perkembangan perilaku
afektif-konatif dan kepribadian.
1.
Karakteristik
Perkembangan Fisik dan Perilaku Psikomotorik
Perkembangan fisik remaja awal
sangat cepat sehingga sering menyebabkan kekurangseimbangan pada proporsi
tinggi dan berat badannya. Pada masa ini tumbuh cirri-ciri sekunder dan
pengembangan otot pada daerah-daerah tertentu disertai dengan mulai mengalami
sekresi kelenjar jenis kelamin. Dengan keadaan tersebut merancang pembelajaran
hendaknya pada pelajaran biologi dan pendidikan jasmani dan kesehatan dipisah
antara pria dan wanita. Guru pembimbing di sekolah dapat mengundang nara sumber (penceramah) seperti dokter serta
merencanakan diskusi tentang pendidikan aksi.
2.
Karakteristik
Perkembangan Bahasa dan Perilaku Kognitif
Pada usia remaja tumbuh keinginan
untuk mempelajari dan menggunakan bahasa asing. Pada kelompoknya para remaja
menggunakan bahasa yang hanya dipahami oleh
anggota kelompok mereka, yaitu bahasa sandi atau bahasa prokem. Gurunya harus memiliki kearifan untuk memahami kemampuan remaja secara individual. Keinginan mereka untuk membaca telah tumbuh, guru hendaknya memberikan tugas-tugas untuk membuat resesi isi buku atau mengarang. Dalam hal perkembangan kognitif, siswa sekolah menengah telah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal, seperti asosiasi, diferensiasi, komparasi dan hubungan sebab-akibat (causalitas) meskipun masih bersifat abstrak dan relatif terbatas.
anggota kelompok mereka, yaitu bahasa sandi atau bahasa prokem. Gurunya harus memiliki kearifan untuk memahami kemampuan remaja secara individual. Keinginan mereka untuk membaca telah tumbuh, guru hendaknya memberikan tugas-tugas untuk membuat resesi isi buku atau mengarang. Dalam hal perkembangan kognitif, siswa sekolah menengah telah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal, seperti asosiasi, diferensiasi, komparasi dan hubungan sebab-akibat (causalitas) meskipun masih bersifat abstrak dan relatif terbatas.
3.
Karakteristik
Perilaku Sosial, Moralitas dan Keagamaan.
Karakteristik perilaku sosial
siswa sekolah menengah adalah adanya kecenderungan ambivalensi keinginan
menyendiri dengan keinginan bergaul dengan banyak teman, dan ambivalensi antara
keinginan untuk bebas dari dominasi pengaruh orang tua dengan kebutuhan
bimbingan dan bantuan dari orang tuanya. Usia remaja adalah masa kritis untuk
menguji kaidah-kaidah nilai, etika atau norma dengan kenyataan dalam kehidupan
sehari-hari orang dewasa. Mereka mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh-tokoh
yang diidolakannya
4.
Karakteristik
Perilaku Afektif, Konatif dan Kepribadian.
Memasuki usia sekolah menengah, lima kebutuhan dari Maslow,
yaitu:
a. Kebutuhan
fisik,
b. Kebutuhan
rasa aman,
c. Afiliasi
social,
d. Penghargaan
e. Perwujudan
diri
Reaksi dan ekspresi emosinya masih labil dan
belum terkendali dan sering berubah dengan cepat. Juga bisa disebut masa krisis
identitas. Karakteristik ini menuntut pemberian contoh perilaku keteladanan
dari orang tua, dll.